TOP

Terinspirasi Venesia, Malaysia Gelar Festival Topeng

Terinspirasi dari festival topeng legendaris yang berlangsung di Venesia, Italia dan tradisi topeng suku asli Mah Meri di Pulau Selangor, Kementerian Pariwisata dan Budaya Malaysia menggelar Malaysian International Mask Festival (MIMAF) untuk pertama kalinya yang berlangsung di Kuala Lumpur, dari 13 hingga 16 Agustus 2015. Festival ini diikuti oleh berbagai perwakilan daerah di Malaysia serta turut mengundang partisipasi enam negara lainnya, seperti Indonesia, Thailand, Filipina, Sri Lanka, Tiongkok, dan Korea Selatan. Masing-masing peserta berkesempatan menampilkan topeng dengan bentuk yang unik dan cerita yang menyertainya.
Azizah Aziz, Direktur Komunikasi Korporat Kementerian Pariwisata dan Budaya Malaysia, mengatakan gelaran ini dijadwalkan akan menjadi event wisata tahunan dan menjadi bagian dalam rangkaian program Year of Festivals Malaysia. “Selain topeng tradisi suku asli Mah Meri, ada beberapa jenis topeng lainnya yang dimiliki Malaysia, dan melalui festival topeng ini, wisatawan bisa melihat keunikan dari setiap topeng,” ujarnya saat ditemui di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis (13/8/2015).
Berlangsung di Esplanade, Kuala Lumpur City Centre (KLCC), festival topeng ini mengusung beberapa program antara lain pementasan tari, pameran, kompetisi, demo pembuatan topeng serta parade arak-arakan menyusuri jalan utama Kuala Lumpur sejauh satu kilometer. Parade yang diikuti oleh seluruh peserta yang total mencapai 400 orang ini berjalan kaki dari gedung Malaysia Tourism Centre (MaTic) melewati Jalan Ampang, Jalan Sultan Ismail, Jalan P Ramlee hingga berakhir di Suria KLCC. Dengan panggung utama di taman KLCC, para penonton diajak serta menikmati pemandangan sekitar Petronas Tower yang ikonik.

 


Diramaikan Tujuh Negara
Sebagai gelaran yang perdana, Malaysia mengikutsertakan 16 grup yang berasal dari berbagai daerah. Di antaranya yang mencolok adalah tampilnya orang-orang dari suku asli Mah Meri yang selama ini hidup menetap di Pulau Carey, Selangor dan terkenal dengan tradisi topengnya. Saking uniknya, MIMAF menjadikan topeng Mah Meri ini sebagai ikon festival dan dipajang di setiap leaflet promo acara.
Ditemui di sela-sela malam pembukaan, Maznah Anak Unyan, ketua grup suku Mah Meri menuturkan bahwa tradisi topeng yang dijalani masyarakat di sana sudah berlangsung turun temurun selama kurang lebih ratusan tahun. Ada beberapa jenis topeng yang terkenal, antara lain topeng Tuk Nani dan Putri Gunung Ledang yang terbuat dari kayu dengan rupa amat mirip wajah manusia. Menurut Mazna, setiap topeng adalah representasi dari nenek moyang yang diyakini mereka sebagai sebuah penghormatan. Topeng-topeng ini biasa dikenakan saat perayaan Hari Moyang sebagai ungkapan terima kasih pada nenek moyang akan apa yang mereka miliki hingga saat ini.
Di samping orang-orang dari suku Mah Meri, turut berpartisipasi dalam festival antara lain grup opera dari Pulau Penang Kim Giak Low Choong, grup Kedah Mek Mulung, Johor Arts School, National Art Gallery, Palace of Culture, Museum Department of Malaysia, Genji Buskers, Pokok Ceri Buskers, Alun Tradisi Grup, Nuril Percussions, Grup Seni JKKN, Seni Tari Permata, Awang Batil, Aswara, Multimedia Arts School, hingga Universiti Tun Abdul Razak. Masing-masing tampil dengan wujud topeng yang berbeda, dari yang terbuat dari kain, plastik hingga kain dengan rupa yang berbeda-beda pula, baik model hingga warnanya.
Selain bisa melihat topeng dari berbagai daerah Malaysia, festival MIMAF juga menjadi etalase untuk melihat keunikan topeng dari negara lainnya. Dari Indonesia, misalnya, tampil Sanggar Seni Citra Budaya, yang berasal dari Bogor, Jawa Barat, yang menampilkan topeng Burung Garuda dalam tarian yang mereka namai Tarian Galudra pada malam pembukaan. Lalu, ada grup Gang Ryeong dari Korea Selatan, Sining Bulakenyo dari Filipina, Ranranga Dance Academy dari Sri Lanka, Sala Chaleemkrung Royal Theatre dari Thailand, dan Shufengya Yun Opera House dari China.
Selama perhelatan festival, setiap negara berkesempatan memamerkan topeng dan tariannya di panggung utama dan tiga panggung lainnya yang berlokasi di Pasar Seni (Central Market), Nu Sentral dan Plaza Sungai Wang.