TOP

Rumah Raden Saleh Segera Direnovasi

Rumah Raden Saleh yang berlokasi di Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta kini siap untuk direnovasi dengan dukungan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat, Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, serta Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA).

“Raden Saleh adalah seniman pelopor di Indonesia selain arsitek yang tersohor di dunia internasional. Rancangannya selalu sertakan simbol-simbol perjuangan. Itu sebabnya kami tertarik untuk turut melestarikan tempat ini dan melakukan restorasi yang tepat,” papar Robert O’Blake Jr. pada acara Serah Terima Dokumen Penelitian dan Dokumentasi Eks Rumah Raden Saleh (Hall RS. PGI Cikini) di Jakarta pada Selasa 926/4/2016)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

Rumah Unik yang Bersejarah

Sekembalinya Raden Saleh ke Batavia dari Eropa pada 1851, beliau sempat tinggal di rumah istri pertamanya di Gunung Sahari, sebelum akhirnya mendirikan rumah di atas sebidang tanah milik istrinya di kawasan Cikini, pada sekitar tahun 1852. Rumah yang hanya ditempati oleh Raden Saleh hingga tahun 1862 ini kemudian dilelang oleh istri pertamanya Constantia N. Winkelhagen pada tahun 1867 dan dibeli oleh seorang tuan tanah Sayid Abdullah bin Alwi Alatas.

Tidak lama setelah itu, rumah Raden Saleh kembali dijual pada tahun 1897 kepada Dominee Cornelis de Graaf dan istrinya, Adriana J. de Graaf yang sedang membutuhkan tempat untuk memberikan pelayanan kesehatan. Pasangan de Graaf mendapat bantuan dana dari Ratu Emma untuk membeli rumah tersebut dan karena itulah rumah sakitnya dinamakan Koningin Emma Ziekenhuis (Queen Emma Hospital). Seiring dengan perkembangan rumah sakit dan kebutuhan ruang, di sekitar bangunan rumah didirikan beberapa bangunan tambahan termasuk gereja di belakang rumah.

Rumah berlanggam eklektik yang dipengaruhi campuran berbagai gaya seperti neo-klasik, pseudo-gotik, vernakular dan ornamen Tiongkok ini memiliki nilai penting tidak hanya arsitektural namun juga sejarah, sosial dan budaya sehingga telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat nasional melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.PM.13/PW.007/MKP/05 – 25 April 2005 dan tingkat provinsi melalui SK Gub.DKI no.475 tahun 1995 dengan klasifikasi A.

Bangunan ini memiliki nilai sejarah dan arsitektur yang sangat istimewa, tidak hanya karena Raden Saleh turut merencanakan disain bangunan serta menempatinya, namun juga rumah ini juga pernah dikunjungi beberapa orang ternama seperti Albert S. Bickmore pada tahun 1868  dan Franz Ferdinand – pangeran dari Austria-Hongaria – pada tahun 1893 untuk mengunjungi Batavia Tentoonstelling (Pameran Batavia), pameran berskala interinasional yang bertempat di bangunan ini. Bangunan ini juga memiliki nilai sosial karena fungsinya sebagai rumah sakit hingga saat ini.

Melalui program Ambassador Funds for Cultural Preservation oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, pada akhir tahun 2015, PDA melakukan kegiatan dokumentasi, penelitian dan inventarisasi kerusakan bangunan Rumah Raden Saleh. Penelitian ini juga didukung pendanaannya oleh pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui bantuan penelitian ekskavasi pondasi oleh BPCB Serang, serta 3D laser scan dan penelitian material bangunan oleh Balai Konservasi Borobudur.

Investigasi struktur bangunan dilaksanakan oleh PT. Risen Engineering Consultant. Upaya ini tentunya sejalan dengan amanat UU CB no.11 tahun 2010, yang menyatakan bahwa sebelum rencana pelestarian dibuat, perlu dilakukan kajian teknis mengenai bangunan bersejarah. PDA berharap melalui hasil kajian ini, pihak konsultan perencana pemugaran, pihak pengelola rumah sakit dan pihak terkait lainnya dapat membuat perencanaan dan pelaksanaan pemugaran sesuai dengan regulasi yang berlaku. Selain itu, selama proses kegiatan dokumentasi, penelitian dan inventarisasi, juga dilakukan perbaikan atap dan dinding bangunan lantai dua bagian muka, yang dilakukan dengan bantuan dana CSR oleh PT. Total Bangun Persada.