EXPLORE INDONESIA: YOGYAKARTA

Pemukiman yang telah rata dengan tanah akibat erupsi kini menjelma menjadi jalur wisata offroad yang populer di kalangan turis.
Mempersiapkan perjalanan ini merupakan sebuah “petualangan” tersendiri. Pasalnya dua minggu sebelumnya Gunung Kelud baru saja erupsi dan abu vulkaniknya sampai ke Yogyakarta. Namun untungnya saat penyelenggaraan trip besama 27 pembaca majalah Panorama bertajuk Explore Indonesia Goes To Yogyakarta, keadaan di kota tersebut cukup cerah dan bersahabat. Perjalanan wisata petualangan yang didukung oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Hotel Santika Premiere Jogja, Tigerair Mandala, dan Polygon ini diselenggarakan pada 28 Februari hingga 2 Maret. Sudah lama Yogyakarta dikenal sebagai salah satu tujuan destinasi wisata terpopuler di Indonesia.
Sesuai dengan moto Seeing the World Differently, peserta Explore Indonesia diberikan pengalaman berbeda dari trip-trip yang telah ada sebelumnya. Fotografer perjalanan Barry Kusuma juga turut hadir untuk memberikan tip-tip memotret selama di Yogyakarta dan membagikan pengalamannya. Dimulai dengan menaiki kendaraan off-road untuk melihat sisa-sisa erupsi Merapi pada 2006 dan 2010 lalu, termasuk mengunjungi Museum Hartaku yang memajang harta masyarakat yang tersisa paska bencana dan bunker observasi yang turut terkena terjangan lahar panas. Selanjutnya peserta diajak melihat Museum Ulen Sentalu yang menyimpan kisah kejayaan Keraton Yogyakarta dan Solo. Dan sebagai penutup hari, mata pun terpana menikmati indahnya matahari terbenam dari Candi Ratu Boko.
Gua Nan Mendunia
Di hari kedua peserta diajak menikmati gua-gua misterius nan indah yang terhampar di kawasan Gunung Kidul, yaitu Gua Jomblang dan Gua Pindul. Petualangan memacu adrenalin dimulai dari melawan takut untuk menuruni tebing setinggi 60 meter sebelum masuk ke Gua Jomblang. Gua ini terkenal akan keunikan struktur dan keindahannya. Tak banyak yang tahu kalau pada tahun 2011, Gua Jomblang dijadikan tempat pengambilan gambar acara reality game show, The Amazing Race. Penelusuran gua dilanjutkan menuju Luweng Grubung dengan memasuki mulut gua yang berukuran sangat besar. Jomblang dan Luweng Grubug dihubungkan dengan sebuah lorong gelap sepanjang 300 meter. Selama perjalanan mata terpana oleh aneka ornamen cantik yang turut menghiasi lorong ini, seperti batu kristal, stalaktit, dan stalagmit. Di ujung perjalanan, sinar matahari yang menerobos masuk dari Luweng Grubug dari ketinggian 90 meter membentuk satu tiang cahaya, menyinari flowstone yang terbentuk secara alami selama ribuan tahun. Sungai bawah tanah yang masih satu sistem dengan Kali Suci pun mengalir dengan deras di bawahnya. Gemericik airnya menggema di sepanjang gua. “Untuk memotret Gua Jomblang datanglah sekitar pukul 10:00 sampai 12:00 saat matahari sedang tegak lurus untuk melihat cahaya masuk di Luweng Grubug. Jangan lupa membawa tripod karena di dalam gua sangat minim cahaya. Gunakan pengaturan low ISO dan white balance di-set pada mode flash,” ujar Barry Kusuma.
Puas menyusuri pedalaman gua yang gelap dan menantang, kemudian peserta diajak menyusuri sungai di gelapnya perut bumi sepanjang 300 meter menggunakan ban pelampung di Gua Pindul. Petualangan yang memadukan aktivitas body rafting dan caving ini dikenal dengan istilah cave tubing. Tidak diperlukan persiapan khusus untuk melakukan cave tubing di Gua Pindul. Peralatan yang dibutuhkan hanyalah ban pelampung, life vest, serta head lamp yang semuanya sudah disediakan oleh pengelola. Aliran sungai yang sangat tenang menjadikan aktivitas ini aman dilakukan oleh siapapun, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Menurut legenda yang dipercayai masyarakat dan dikisahkan turun temurun, nama Gua Pindul dan gua-gua lain yang ada di Bejiharjo tak bisa dipisahkan dari cerita pengembaraan Joko Singlulung mencari ayahnya. Setelah menjelajahi hutan lebat, gunung, dan sungai, Joko Singlulung pun memasuki gua-gua yang ada di Bejiharjo. Saat masuk ke salah satu gua mendadak Joko Singlulung terbentur batu, sehingga gua tersebut dinamakan Gua Pindul yang berasal dari kata “pipi gebendul”.
Sebelum bertolak kembali ke Jakarta, peserta diajak berkeliling kota Yogyakarta menggunakan sepeda Polygon dengan mengunjungi Keraton dan Pemandian Taman Sari. Tak lupa membeli kudapan khas Yogyakarta yaitu Bakpia, dengan mengunjungi rumah produksi Bakpia Pathok 25 yang berada tepat di belakang kawasan pusat belanja Malioboro.
Perjalanan wisata petualangan Explore Indonesia masih akan terus berlangsung sepanjang tahun 2014. Setelah Yogyakarta masih ada Ujung Kulon, Lombok, Bromo, dan Flores. Untuk informasi dan pendaftaran peserta hubungi David (0856 931 835 88 / 0896 689 409 80)

