Memantau Hiu Paus di Teluk Cendrawasih
Dalam rangka perayaan Hari Hiu Paus Internasional (International Whale Shark Day) pada 30 Agustus 2014, WWF-Indonesia bersama dengan Balai Besar Taman Nasional Teluk Cendrawasih (BBTNTC) meluncurkan buku “Panduan Teknis Pemantauan Hiu Paus di Taman Nasional Teluk Cenderawasih” di Cikini, Jakarta. Peluncuran buku panduan ini juga dihadiri oleh Direktur Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan (KKJI) Kementerian Kelautan dan Perikanan Agus Darmawan, kepala BBTNTC Ben G. Saroy, Kepala, dan Marine Species Officer WWF-Indonesia Casandra Tania.
Hiu paus (Rhincodon typus) dapat ditemukan di hampir semua wilayah Indonesia seperti di perairan Sabang, Pantai Utara Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, Alor, Flores, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Oleh karena itu, peluang bagi masyarakat untuk bertemu cukup besar dan dapat dimanfaatkan untuk penelitian. Panduan teknis ini dapat digunakan oleh individu atau lembaga untuk mendata hiu paus yang dapat ditemukan sewaktu-waktu di lokasi yang beragam. Data yang dikumpulkan tersebut dapat dikirim kepada tim peneliti untuk dianalisis. “WWF berharap dengan adanya panduan ini, masyarakat dapat berkontribusi dalam penelitian dan upaya konservasi hiu paus,” kata Casandra Tania.
Di Indonesia hiu paus dilindungi oleh KEPMEN KP No. 18 Tahun 2013 Tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Hiu Paus. Meskipun sudah dilindungi, penelitian hiu paus masih belum banyak dilakukan. Padahal, dengan mengenali satwa, baik perilaku biologis maupun habitatnya, adalah salah satu cara untuk memastikan upaya perlindungannya berjalan efektif dan efisien. “Keterlibatan banyak pihak, termasuk masyarakat, juga merupakan kunci keberhasilan konservasi hiu paus, mengingat ikan terbesar di dunia ini merupakan jenis ikan yang wilayah migrasinya mencakup area yang luas, tidak hanya di perairan indonesia tetapi juga lintas negara. Hal ini terbukti dengan banyak ditemukannya kasus hiu paus yang terdampar dan tertangkap jaring nelayan,” ujar Agus Darmawan.
Penelitian hiu paus di Kwatisore dilakukan dengan penandaan satelit untuk memetakan pergerakan satwa, identifikasi foto, penandaan radio, serta studi genetika menggunakan pendekatan DNA mitokondria dan mikrosatelit. Data yang terkumpul dari penelitian ini berhasil disusun menjadi sebuah panduan teknis pemantauan hiu paus di TNTC, yang diharapkan akan menjadi referensi dalam penyusunan Pedoman Monitoring Hiu Paus di Indonesia oleh Direktorat KKJI.
“Hasil studi dan pemantauan menunjukkan bahwa kawasan TNTC, khususnya Kwatisore, salah satu habitat penting hiu paus yang harus menjadi prioritas konservasi di Indonesia dan dunia. Selain itu, Kwatisore memiliki nilai lebih sebagai lokasi untuk berinteraksi dengan hiu paus. Selain karena hiu paus dapat ditemui sepanjang tahun di lokasi ini, waktu interaksi dapat mencapai satu jam dengan air sejernih kristal. Ini merupakan atraksi wisata potensial yang dapat dikembangkan ke depannya,” jelas Ben G. Saroy.