Gajah Sumatera Rentan Punah
Dalam rangka Hari Gajah Sedunia yang jatu pada pada 12 Agustus 2012, WWF -Indonesia dan Lembaga Biologi Molekular Eijkman mengungkapkan bahwa Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) khususnya yang berada di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau, ternyata rentan terhadap kepunahan. Hal tersebut terungkap berdasarkan studi dari deoxyribonucleic acid (DNA) gajah, serta karena tingginya perkawinan sedarah yang dapat menyebabkan penyakit turunan, terkait dengan variasi genetik yang rendah.
“Sejak tahun 2012, dengan metode yang dirancang sistematis, kami mengumpulkan sampel DNA dari kotoran gajah di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo dan sekitarnya. Dari analisis sampel ini, kami berhasil mengindentifikasi 113 individu yang berbeda, dan dapat memperkirakan jumlah minimal populasi Gajah Sumatera di kantong habitat Tesso Nilo pada saat sampel diambil sekitar 154 individu,” kata Sunarto, Ekolog Satwa Liar WWF-Indonesia.
Studi DNA juga dapat digunakan untuk berbagai tujuan, termasuk menghitung populasi dan mengetahui kekerabatan satu individu gajah atau kelompok populasi dengan individu atau kelompok lainnya. Selain untuk studi populasi dan kekerabatan, teknik genetika ini juga dapat digunakan untuk keperluan mitigasi konflik gajah dan manusia, serta forensik dalam penegakan hukum tindak pidana satwa liar.
Tak hanya itu studi pergerakan gajah dengan bantuan kalung GPS juga berhasil mengungkap pergerakan kelompok gajah Tesso Nilo yang terfokus di luar Taman Nasional, yakni di kawasan Hutan Tanaman Industri. Hal itu diduga disebabkan oleh tingginya aktivitas manusia, khususnya perambahan, yang terjadi di dalam kawasan Taman Nasional Tesso Nilo.
Penggunaan teknik-teknik tersebut untuk konservasi satwa di Indonesia baru dilakukan terbatas untuk Gajah Sumatera pada bentang alam Tesso Nilo, Bukit Tigapuluh, Way Kambas, dan Bukit Barisan Selatan. Kombinasi teknik ini dengan pengambilan sampel yang non-invasif (tidak menyakiti satwa) dapat menguntungkan dalam studi populasi satwa elusif serta terancam punah. Selain tidak perlu bersinggungan langsung dengan satwa sehingga potensi korban satwa-manusia terhindari, juga tidak menyebabkan stres pada gajah.