Menuju Nol Perburuan Harimau di Asia
Guna melindungi populasi harimau yang semakin menurun, 13 negara yang memiliki populasi harimau (Tiger Range Countries/TRC) termasuk Indonesia mengadakan The 2nd Stocktaking Conference of The Global Tiger Recovery Program (GTRP) yang merupakan kelanjutan dari kesepakatan Tiger Summit di St.Petersburg, Rusia pada 2010. Konferensi ini mengevaluasi kemajuan bersama negara-negara tersebut dalam mencapai tujuan untuk menggandakan populasi harimau di tahun 2022 atau yang dikenal sebagai Tx2.
Dalam konferensi ini, WWF menyerukan dan siap menjalin kerja sama dengan pemerintah negara populasi harimau untuk berkomitmen pada proses yang terjadwal dan dipimpin oleh pemerintah sendiri untuk mempertahankan momentum politik paling tidak hingga tahun 2022, sepakat bahwa di tahun 2016 – setengah jalan menuju tujuan Tx2 – semua negara populasi harimau akan menyiapkan sensus akurat untuk populasi harimau di alam liar di negara masing-masing, dan segera mengambil tindakan nyata untuk menghentikan perburuan sebagai tindak lanjut dari dukungan pemerintah untuk rencana pelaksanaan “Simposium: Menuju Nol Perburuan di Asia”.
“Kita sudah hampir mencapai sepertiga jalan menuju target penggandaan populasi harimau. Terlepas dari kemajuan besar yang telah dicapai, masih banyak lagi yang perlu dilakukan oleh beberapa pemerintah13 negara tersebut jika ingin mencapai tujuannya di tahun 2022,” kata WWF Tiger Alive Initiative Leader, Mike Baltzer.
Untuk mencapai Tx2, pemerintah negara populasi harimau harus menghentikan perburuan dengan memberikan pelatihan profesional anti perburuan dan melakukan investasi untuk Polisi Hutan. WWF dan mitra-mitra LSM lainnya sedang melakukan persiapan untuk meluncurkan sebuah era baru anti perburuan di “Simposium: Menuju Nol Perburuan di Asia”, yang diperkirakan akan diselenggarakan awal Desember 2014. Tujuan dari Simposium ini adalah untuk berbagi praktik-praktik terbaik anti perburuan dan mendiskusikan rencana “Nol Perburuan”, yang memerangi, mengintensifkan dan mempercepat tindakan terhadap perburuan di semua negara populasi harimau.
“Banyak pihak yang membantu dan berperan dalam upaya menggandakan populasi Harimau Sumatera di Indonesia, terutama dari kalangan masyarakat madani. Namun untuk mencapai target Tx2, pemerintah dan masyarakat harus lebih serius mendukung komitmen ini. WWF-Indonesia siap mendorong tumbuhnya komitmen Tx2 yang lebih kuat di Indonesia, khususnya di pemerintahan baru,” ujar Anwar Purwoto, Direktur Sumatera dan Borneo WWF-Indonesia.
Selain itu, bertepatan dengan Global Tiger Day, 29 Juli 2014 lalu, WWF menyerukan kepada seluruh negara populasi harimau untuk menghitung jumlah populasi harimau masing-masing, sehingga populasi saat ini – yang diperkirakan kurang dari 3.200 harimau – dapat diperbaharui. Sejak angka perkiraan populasi tersebut dirilis pada tahun 2010, maraknya perburuan telah mencapai tingkat kritis dan merupakan ancaman paling berbahaya bagi harimau di alam liar saat ini. Statistik yang dirilis oleh TRAFFIC, sebuah jaringan pemantau perdagangan satwa liar, menunjukan bahwa sedikitnya 1.590 harimau disita antara Januari 2000-April 2014 (setara dengan rata-rata dua harimau per minggu).