Menyingkap Pesona Surga Bawah Laut Lembata
445
Terletak antara Flores dan Alor, Pulau Lembata yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur ternyata memiliki harta karun bawah laut yang selama ini belum banyak terjamah. Salah satunya adalah biota laut Skeleton Shrimp (Caprellidae) yang ditemukan di sisi barat Lembata yang berpasir hitam. Makhluk kecil ini hanya bisa disaksikan jika mata cukup jeli karena ukurannya yang sangat kecil, yakni sekitar dua hingga tiga sentimeter.
Potret Skeleton Shrimp yang diambil fotografer Dewi Wilaisono pun kemudian dipilih sebagai sampul depan buku Lembata Underwater yang baru saja diluncurkan Pemerintah Daerah NTT di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata, Jakarta, pada Kamis (3/12/2015). Buku setebal 114 halaman yang ditulis dalam bahasa Inggris ini mengungkap keindahan bawah laut dan aneka jenis biota laut yang ada di Lembata.
Benny Alexander Litelnoni, Wakil Gubernur NTT, mengungkapkan bahwa ada sekitar 1.192 pulau di NTT, namun baru 432 yang bernama dan Lembata adalah salah satunya yang memiliki kekayaan laut yang belum banyak terekspos.
“Buku ini diharapkan dapat menjadi pintu gerbang bagi publik, baik dalam maupun luar negeri, untuk mengetahui bahwa Lembata punya harta karun yang tersembunyi dan menunggu untuk ditemukan,” ujar Eliaser Tentji Sunur, Bupati Lembata.
Selain jenis Skeleton Shrimp yang membuat takjub, ada beberapa biota bawah laut lainnya yang tak kalah unik. Di antaranya terdapat Cockatoo Waspfish (Ablabys Taenianotus), Sea Pen (Pennatula SP), Seahorse (Hippocampus), Mandarin Fish (Sybchiropus Splendidus), Painted Frogfish (Antennarius Pictus), False Clown Anemonefish (Amphiprion ocellaris), Moon Snail (Naticidae), Magnificent Shrimp (Ancylomones macnificus), dan Cuttlefish (Sepia Sp.).
Aneka biota laut ini ditemukan para penyelam di sembilan titik penyelaman di sekitar Pulau Lembata, antara lain Flat Boleng, Ice Factory, Pertamina Pier, Skeleworld, Lewoleba Jetty, China Town, Meeting Table, Barrier Reef, dan Crack of Kumba.
Mulyadi Pinneng Sulungbudi, fotografer yang juga menjadi ketua proyek penyusunan buku ini, mengatakan bahwa Lembata Underwater bisa dibilang sebagai buku pertama yang mengungkap keindahan bawah laut Lembata. Dibanding area lainnya, titik penyelaman di sini belum banyak dijamah oleh para penyelam.
Dalam penyusunannya, Lembata Underwater melibatkan 12 kontributor foto dari beragam latar belakang. Selain Pinneng, turut serta Nadine Chandrawinata (konservasionis), Gemala Hanafiah (travel blogger), Marischka Prudence (travel blogger), Edward Suhadi (fotografer), Dewi Wilaisono (fotografer), Malinda Wilaisono (fotografer), Ferry Rusli (fotografer), Chikuyama (creative director), Anto Motulz (sketcher), Rahung Nasution (antropolog kuliner), dan Christie Wagner (PR specialist).
Masing-masing menyumbang sejumlah foto yang berhasil mereka abadikan saat melakukan penyelaman. Keberagaman profesi dari para kontributor juga turut membuat buku ini menjadi lebih komprehensif, karena tak hanya memuat foto-foto bawah laut, tapi juga sketsa yang dibuat Anto Motulz dan potret Lembata oleh Rahung Nasution yang berinteraksi dengan penduduk setempat.


