TOP

Perairan Sulawesi Tenggara Kian Terancam

Sebagian besar ekosistem terumbu karang di perairan Sulawesi Tenggara berada dalam kondisi rusak. Hal ini ditandai oleh rendahnya tutupan karang keras serta tingginya tutupan patahan karang dan tingkat sedimentasi. Perairan Sulawesi Tenggara berada di bawah ancaman serius akibat meningkatnya aktivitas pertambangan nikel di provinsi ini.

Temuan lain yang mengemuka adalah ancaman blooming bintang laut berduri (Crown of Thorns / Acanthaster planci), yang mencapai 30 individu per lokasi pengambilan data kajian biofisik perairan Sulawesi Tenggara pada Eskpedisi Sulawesi Tenggara, 14 – 25 Oktober 2016 lalu. Masih maraknya penggunaan bom (jumlah letusan hingga tujuh kali dalam satu lokasi saat penyelaman) juga mengancam ekosistem terumbu karang di wilayah ini. Sementara di beberapa desa pesisir, tim masih melihat adanya pemanfaatan karang untuk pondasi rumah.

Namun meski berada di bawah tekanan, ekosistem pesisir di Sulawesi Tenggara masih memiliki kesempatan besar untuk pulih kembali. Di beberapa lokasi, tim mencatat jumlah rekrutmen karang (karang keras berukuran kecil) yang cukup banyak, tutupan karang keras yang tinggi, schooling ikan naso dan barakuda ekor kuning, dan berbagai jenis spesies yang dilindungi seperti penyu sisik, penyu hijau, penyu belimbing, paus, hiu paus, lumba-lumba, duyung, dan pari manta.

“Untuk mengoptimalkan rancangan jejaring kawasan konservasi perairan di Sulawesi Tenggara, telah dilakukan kajian biofisik untuk menilai keterkaitan antar kawasan,” terang Anung Wijaya, Staf Seksi Konservasi dan Rehabilitasi Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tenggara, yang juga salah satu peserta ekspedisi.

Sulawesi Tenggara yang didominasi 75 persen perairan atau seluas 114,879 kilometer persegi ini merupakan laut yang potensial dengan berbagai jenis keanekaragaman hayatinya.

Imam Mustofa, Sunda Banda Seascape and Fisheries Leader WWF-Indonesia, mengatakan, “Ekspedisi ini adalah salah satu bentuk dukungan WWF-Indonesia terhadap pencadangan KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara.

Foto: Peneliti benthik, Evi NurulIihsan, WWF Indonesia