Qatar Airways Tambah Frekuensi Penerbangan Doha-Kathmandu
Qatar Airways telah menambah frekuensi penerbangan untuk rute Doha-Kathmandu mulai 1 September 2017 demi memenuhi permintaan yang tinggi selama musim festival di Nepal sedang berlangsung, yakni tiap September hingga Oktober. Penerbangan tambahan ini akan dioperasikan dengan armada Airbus A320 dengan jadwal keberangkatan dari Doha pukul 01:25 dan tiba di Kathmandu pukul 08:55.
Akbar Al Baker selaku CEO Qatar Airways mengatakan, “Penerbangan tambahan ini memungkinkan penumpang untuk menikmati berbagai atraksi di Kathmandu, termasuk pawai yang diiringi musik Nepal dengan suasana yang ceria.” Dengan penambahan frekuensi penerbangan ini, Qatar Airways menawarkan empat penerbangan dalam sehari antara Doha dan Kathmandu.
Pesona Kathmandu
Kathmandu sebagai ibu kota Nepal adalah kota dinamis yang penuh warisan sejarah di setiap sudutnya. Merupakan pintu gerbang menuju puncak-puncak gunung tertinggi di dunia yang menjanjikan petualangan tak terlupakan, setelah tinggal beberapa hari di Kathmandu, siapa pun akan mengerti esensi dari sapaan “namaste” yang diucapkan penduduknya yang ramah dan murah senyum.
Banyak atraksi menarik di Kathmandu. Boudhanath, misalnya, merupakan salah satu stupa terbesar di dunia dengan diameter 120 meter dan tinggi 36 meter. Kaya akan simbol, Boudhanath memiliki lima patung Buddha Dhyani yang merepresentasikan lima elemen (tanah, api, air, api, dan langit); sembilan tingkat yang merepresentasikan Gunung Meru; dan 13 lingkaran dari dasar ke puncak yang melambangkan tingkatan menuju pencerahan atau Nirwana. Di bagian bawah stupa terdapat roda doa (prayer wheel) yang mengelilingi Situs Warisan Dunia UNESCO ini. Roda doa adalah sebuah silinder dari logam dengan mantra-mantra yang terukir di sekujur permukaannya. Umat Buddha percaya bahwa dengan memutar roda doa satu kali, seluruh mantra tersebut akan langsung terkirim ke langit. Turis diperbolehkan ikut memutar roda doa ini, namun perhatikan petunjuk memutarnya, jangan sampai salah arah. Mengelilingi stupa ini pun sebaiknya mengikuti adat Tibet, yaitu searah jarum jam.

Lalu ada Thamel yang merupakan salah satu tempat tertua di Kathmandu. Kawasan turis populer ini terdiri dari tujuh jalan utama dan beberapa jalan yang lebih sempit yang dipenuhi bangunan tua bergaya Newar (penduduk asli Lembah Kathmandu). Kebanyakan turis yang baru pertama kali ke Nepal langsung menginjakkan kaki di Thamel karena di kawasan inilah banyak terdapat akomodasi murah, selain agen wisata, pemandu perjalanan, toko penyedia alat trekking, restoran, kafe, dan bar. Tidak ada nama jalan di kawasan ini, sehingga mengeksplornya merupakan tantangan tersendiri. Mengetahui letak pusat Thamel merupakan cara terbaik agar tidak tersesat. Mulailah dari persimpangan jalan di samping toko roti Hot Breads. Dari sana, bisa menuju selatan ke Durbar Square atau ke arah tenggara ke Thamel Marg dan pemberhentian bus ke Chitwan atau Pokhara, serta menuju utara ke Sam’s Bar, atau lebih jauh lagi menuju timur ke Swayambhunath (Monkey Temple). Bila tersesat, tanyakan saja arah menuju Hot Breads – hampir semua penduduk setempat mengetahui letak tempat ini. Jangan pernah naik taksi di Thamel, karena jalanan di sini sempit, selain berjalan kaki adalah cara terbaik untuk mengeksplornya.

Sadhu adalah umat Hindu yang memilih menjauh dari kehidupan normal masyarakat untuk bertapa. Berbicara dengan salah satunya bisa membingungkan atau menjadi pembicaraan yang mendalam dan penuh wawasan. Banyak di antara mereka yang tinggal di kuil, gua, atau hutan. Meski tidak tertarik dengan materi, mereka menerima sumbangan pakaian atau makanan. Sadhu di Nepal juga memiliki hak istimewa untuk mengonsumsi ganja agar dapat mencapai tingkatan tertinggi meditasi, dan sudah hal biasa untuk melihat mereka dalam keadaan telanjang saat bertapa atau merayakan sebuah festival, seperti Shivaratri yang merupakan hari ketika Dewa Siwa menikah dengan Dewi Parvati.
Jangan lewatkan juga untuk menyaksikan upacara kremasi di Pashupatinath. Berlokasi di tepi Sungai Bagmati di Deopatan, sebuah desa yang berjarak sekitar tiga kilometer dari Kathmandu, Pashupatinath atau Pashupati adalah pura Hindu yang didedikasikan untuk Dewa Siwa. Meski ramai dikunjungi peziarah setiap tahun, hanya mereka yang beragama Hindu yang bisa memasukinya. Walau begitu, pengunjung non-Hindu tetap dapat menyaksikan upacara kremasi yang kerap dilakukan di sini. Upacara ini bisa dilihat dari seberang sungai sehingga tidak mengganggu prosesi, yaitu mulai dari anggota keluarga tiba dengan membawa jenazah yang telah terbungkus kain dengan tandu ke tepi sungai, membersihkan kepala dan kaki jenazah dengan air suci dan bergantian memercikkan air dan melempari bunga ke jenazah sebagai penghormatan terakhir, hingga jenazah dikremasi.

Bila memiliki waktu lebih, pergilah ke Patan. Salah satu kota terbesar di Nepal ini terletak di selatan Kathmandu, tepatnya di seberang Sungai Bagmati, dan bisa dicapai dengan naik bus (20 rupee dari Ratna Park Bus Stop) atau taksi selama 30 menit (sekitar 400 rupee). Dikenal juga sebagai Lalitpur – baik Patan maupun Lalitpur berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu “lalitapattan” – Patan memiliki sejarah panjang sebelum Masehi dan hal ini terlihat dari sejumlah stupa yang ada di setiap sudut kota dan diperkirakan berasal dari 250 SM. Atraksi menarik di Patan antara lain Golden Temple (Hiranya Varna Mahavihar) di utara Durbar Square yang dibangun pada abad 12 oleh Raja Bhaskar Verma, selain Kumbeshwar Temple yang berasal dari tahun 1392. Jangan lewatkan pula Rato (Red) Machhendranath Temple dari abad 17 yang memiliki empat pintu dengan ukiran rumit dan patung berbagai hewan pada pilarnya, serta Mahaboudha Temple yang berjuluk Kuil Seribu Buddha. Museum Patan yang bertempat di Istana Malla yang telah direstorasi, menampilkan sekitar 200 patung dewa-dewa Hindu atau Buddha dari emas dan perunggu. Sebagai tempat yang telah melahirkan seniman ternama, seperti Arniko dan Kuber Singh Shakya, Patan merupakan tempat terbaik untuk membeli perhiasan, ukiran kayu dan batu, topeng, serta patung Buddha.