Strategi Pariwisata Indonesia 2014
Dalam sebuah panel diskusi bertajuk Indonesia Tourism Outlook and Challenge 2014 pada 6 Februari 2014 di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf ) Mari Elka Pangestu memaparkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada 2013 mencapai 8,8 juta wisman. Angka tersebut melebihi target yang dipasang sepanjang 2013 yaitu 8,6 juta wisman. Keberhasilan ini tentunya karena keunggulan-keunggulan yang dimiliki Indonesia sebagai destinasi wisata dan meningkatnya konektivitas penerbangan ke Indonesia. “Kita kompetitif pada harga, sumber daya alam, dan budaya. Selain itu, sepanjang 2013 konektivitas penerbangan ke Indonesia semakin baik dan seat capacity-nya juga meningkat,” ujar Mari Elka Pangestu.
Di tahun 2014, Menparekraf menargetkan kunjungan 9,3-9,5 juta wisman dengan devisa sebesar 11 miliar dolar AS. Tentunya dengan target yang lebih besar dari tahun sebelumnya, pariwisata Indonesia perlu banyak dukungan, baik dari segi transportasi maupun promosi. “2014 kami prioritaskan konektivitas di 16 DMO (Destination Management Organization), yang memang menjadi destinasi yang dipromosikan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif,” kata Sugiharjo, Staf Ahli Kementerian Perhubungan Bidang Logistik dan Media.
16 DMO tersebut meliputi wisata minat khusus seperti golf, diving, sepeda, dan marathon serta wisata sejarah, budaya, belanja hingga kuliner dengan destinasi wisata seperti Medan, Singkarak, Jakarta, Bali, Lombok, Flores, Komodo, hingga Raja Ampat. “Salah satu wisata minat khusus lainnya adalah wisata kapal pesiar. Tahun 2009 baru ada 100 ribu penumpang ke Indonesia, tahun 2014 bisa mencapai 500 ribu nantinya. Kemenparekraf akan terus bekerja sama dengan tiap pemerintah daerah untuk memperbaiki pelabuhan. Masih banyak pelabuhan-pelabuhan di Indonesia yang dianggap belum layak untuk menampung kapal pesiar. Tahun ini rencananya ada tujuh pelabuhan baru untuk kapal pesiar,” kata Mari Elka Pangestu.
Sayangnya dengan semua target dan keberhasilan yang sudah diraih, pariwisata Indonesia tidak dibarengi oleh promosi yang cukup memadai. Menurut CEO Panorama Budi Tirtawisata, dibandingkan dengan negara tetangga Indonesia masih kurang gencar dalam promosi produk wisatanya. “Kita seharusnya lebih aktif dan konsisten dalam memasarkan produk-produk wisata Indonesia. Produk tersebut juga haruslah paling baru guna menarik wisman. Untuk memasarkan sebuah produk wisata tentunya harus melihat selera pasar yang menjadi target promosi. Misalnya harus tahu, wisaman dari Eropa lebih suka dengan kebudayaan sedangkan wisman Asia lebih suka wisata belanja dan kuliner. Di samping turut ikut aktif dalam berbagai travel show, untuk memudahkan pemasaran produk wisata Indonesia, perlu juga dibangun sebuah jaringan yang baik, dari dalam maupun luar negeri,” Papar Budi.