TripAdvisor: Wisatawan Lebih Suka ke Luar Negeri
TripAdvisor, salah satu situs perjalanan terbesar di dunia, mengumumkan hasil penelitian dari TripBarometer tentang tren-tren wisata di tingkat negara, wilayah dan dunia. Ternyata tahun ini 41% wisatawan di seluruh dunia ingin menaikkan anggaran untuk berlibur, jumlah tersebut melampaui wisatawan yang ingin menurunkan anggaran yakni sebesar 23%.Penelitian tersebut melibatkan analisa dari 44.000 respon wisatawan dan sektor perhotelan dunia, termasuk 594 responden dari Indonesia. Dibandingkan tahun lalu, kemungkinan anggaran yang ditambahkan mencapai dua kali lipat.
Menurut Barbara Messing selaku Chief Marketing Officer dari TripAdvisor, laporan TripBarometer tersebut memberikan gambaran positif dari perjalanan tahun ini.
“Semua orang ingin melakukan lebih banyak perjalanan keluar negeri. Australia, Italia dan AS terus jadi destinasi favorit, berada di daftar teratas tujuan wisata impian,” kata Barbara Messing.
Menurut penelitian ini, 46% dari wisatawan Indonesia akan menaikkan anggaran perjalanan mereka tahun 2015. Dari mereka yang berencana untuk menaikkan anggaran wisata, hampir 60% mengindikasikan bahwa berlibur adalah sesuatu yang berhak mereka dan keluarga dapatkan. Hanya 19% dari wisatawan Indonesia yang mengatakan bahwa mereka akan mengurangi pengeluaran wisata mereka, hampir setengah dari mereka berkata perubahan dalam keluarga atau situasi perkawinan sebagai alasan utama di balik penurunan anggaran tersebut.
Wisatawan Indonesia dilaporkan rata-rata mereka menghabiskan Rp30.842,- juta untuk berlibur tahun 2013. Melihat pengeluaran tahun 2014, jumlah ini meningkat 4% hingga mencapai Rp32,150 juta. Akan tetapi, penelitian terakhir melaporkan tren yang lebih positif, wisatawan Indonesia berencana untuk menghabiskan rata-rata Rp30.842.800,- untuk wisata tahun 2015. Jumlah ini meningkat hingga 12% walaupun masih di bawah rata-rata anggaran perjalanan dunia.
Wisatawan Indonesia berencana untuk melakukan lebih banyak perjalanan ke luar negeri dengan jumlah rata-rata peningkatan sebesar 25% tahun 2015, melebihi jumlah rata-rata dunia sebesar 15%. Jepang, Inggris dan Amerika Serikat adalah tiga negara tujuan wisata impian bagi wisatawan Indonesia dalam 24 bulan mendatang, jika uang tidak menjadi masalah. Sebanyak 72% berkata bahwa mereka menabung untuk liburan impian dan 54% menunggu sampai mereka punya waktu lebih untuk mengeksplorasi tujuan wisata dengan sempurna. Nilai tukar mata uang terbaru juga jadi penghalang bagi 20% wisatawan Indonesia yang ingin mengunjungi tujuan wisata impian mereka.
Secara global perjalanan domestik melebihi perjalanan internasional, hampir 60% dari perjalanan yang direncanakan tahun 2015 adalah wisata domestik.
Hasil penelitian lainnya, tahun 2015 TripBarometer melihat hubungan antara jenis wisata dan bagaimana wisatawan akan menghabiskan anggaran perjalanan mereka. Penelitian ini mengungkap estimasi jumlah anggaran wisata setiap wisatawan yang akan dihabiskan di negara mereka masing-masing. Untuk wisatawan Indonesia, rata-rata anggaran perjalanan untuk 2015 adalah sebesar Rp36,008 juta. Mengingat 63% dari rencana perjalanan mereka dilakukan di dalam negeri, jumlah ini mungkin sama dengan estimasi belanja rata-rata Rp22,685,040 per wisatawan di Indonesia tahun ini.
Sementara itu, fitur baru di TripBarometer tahun ini adalah Hotelier Confidence Index yang mengukur tingkat kepercayaan sektor hotel dunia di 27 pasar wisata utama. Index ini melihat ekspektasi profitabilitas pengusaha perhotelan, perubahan dari tahun ke tahun dalam tarif kamar dan rencana investasi untuk tahun 2015. Tiap negara diberikan nilai dalam skala 5 dan diberikan peringkat untuk menunjukkan bagaimana mereka dibandingkan ke pasar-pasar wisata utama lain.
Melihat keseluruhan dari peringkat Hotelier Confidence Index, Indonesia berada di peringkat pertama di dunia. Sektor perhotelan Indonesia memiliki tingkat optimisme tinggi dengan 83% bisnis merasa optimistis dengan profitabilitas mereka tahun 2015. Menurut penelian ini, 62% perusahaan Indonesia memiliki kecenderungan untuk meningkatkan tarif kamar mereka tahun 2015. Ini seringkali merupakan tanda kuat dari kesehatan sektor perhotelan.