
Ironi Danau Linow
“Sudah pernah ke Danau Linow?” tanya Bobby Mantiri kepada saya. Bobby adalah teman saya yang tinggal di Tomohon. Ia asli orang Tombulu, salah satu suku Minahasa Induk. Kalau bicara, logat Manadonya sangat kental.
Suatu hari Minggu, Bobby yang penyuka fotografi ini mengajak saya ke Danau Linow. Danau ini tersohor sebagai danau berwarna satu-satunya di Sulawesi Utara. Dari Manado, hanya sekitar satu jam jarak tempuhnya setelah melintasi pusat kota Tomohon. Luas danau ini 34 hektar. Berada di Kelurahan Lahendong, Tomohon Selatan.
Ajakan Bobby langsung saya iyakan. Ada asa tersimpan dalam hati saya. Yaitu, memotret panorama alam Danau Linow yang katanya tersohor sebagai danau berwarna, karena pengaruh kadar belerang yang muncul dari dasar danau berupa gelembung-gelembung air.
“Itulah uniknya Danau Linow. Ada sumber air panas yang muncul dari dasar danau berupa gelembung-gelembung air. Nanti kita bisa melihat itu, di pinggir danau” jelas Bobby dalam mobil.
Aroma Belerang
Bau belerang tercium di hidung saat mobil menyusuri jalan aspal halus mendekati danau Linow. Sepanjang jalan kecil itu, kurang lebih 300 meter dari jalan raya, saya melihat banyak pohon pinus tumbuh subur selain ladang pohon Nanas, pohon Salak serta semak belukar. Saya heran mengapa tumbuhan itu bisa hidup di tanah dengan kandungan belerang (sulfur) yang tinggi.
Mobil yang saya tumpangi berhenti di tempat parkir. Semua penumpang turun dan sejauh mata memandang panorama alam danau Linow begitu indah. Warna airnya yang hijau bergradasi dengan putih dan biru makin mempesona. Sekeliling danau sebagian besar masih hijau oleh pepohonan. Hanya ada beberapa tempat yang memang tanah belerang yang masih mengeluarkan asap sulfur.
Gradasi warna air di permukaan danau itu begitu mempesona. Sinar terang matahari dan langit biru bersih memantul jelas di air danau sehingga air danau makin indah warnanya. Kalau hanya berdiri di pinggir danau dari tempat parkir rasanya kurang afdol. Kami pun pergi ke salah satu lokasi yang dikelola oleh pihak swasta. Namanya Coffee Kafe.
Bobby bercerita bahwa bangunan-bangunan di pinggir danau Linow dikelola oleh beberapa pihak. Penduduk setempat mendirikan pondok-pondok beratapkan daun Katuk dan selain menyediakan pondok kopi, juga menyewakan bebek air. Bahkan kalau ada yang berani bisa sewa kano berpenumpang satu orang. Fasilitas itu dipakai untuk mengeliling danau.
Secangkir Alunan Musik
Setibanya di Coffee Kafe, kami disambut oleh petugas dan dipersilahkan untuk mencari duduk sendiri. Tentu saja setelah membayar karcis masuk sebesar Rp. 25.000,- per orang dengan bonus secangkir kopi dan kue kecil. Duduk di atas dak, daripada duduk di dalam ruangan, sangat leluasa untuk menikmati keseluruhan Danau Linow. Sambil minum kopi hitam disanding gorengan pisang dan ubi, plus sambel rowa, suasana liburan kami menjadi asyik.
Suasana itu makin membuat betah di Danau Linow karena angin sepoi-sepoi menerpa dedaunan pohon Pinus menimbulkan suara mirip alunan musik. Sesekali buah Pinus cokelat jatuh di depan kami. Tak hanya itu, saat menyeruput kopi sambil mata memandang ke arah air danau, terlihat bebek liar dan bunung bangau putih (Bubulcus Ibis) terbang melintas danau.
Dari petugas kafe, saya mendapat cerita bahwa selain gerombolan bebek air (kurang lebih 300 ekor) dan burung Kuntul Putih, danau ini juga menjadi habitatnya “sayok dan komo” (binatang sejenis capung, yang bisa hidup di air dan terbang di udara). Sayok dan komo ini dimangsa oleh bebek liar dan burung Sriti. Sampai sekarang ekosistem itu dijaga oleh penduduk dengan tidak menangkap bebek liar itu.
Linow Kini Berubah
Ando, salah satu petugas Kafe, bercerita tentang perbedaan kondisi ekosistem danau Linow dulu dengan sekarang. Katanya, di seberang sana dulu oleh penduduk ditanami padi. Setiap kali panen, kami harus menggunakan perahu untuk mengangkut gabah padi. Tapi, sekarang tanah itu tak bisa lagi ditanami padi. Ikan Mas dan Mujaer di sekitar persawahan pun dulu sering kami pancing. Tapi semua itu berubah. Entah kenapa.
“Saya dengar limbah pengolahan energi panas bumi yang dijadikan sumber listrik di bukit sebelah danau, telah mencemari tanah dan air danau sehingga mematikan ekosistem padi dan ikan itu” ungkap Ando, penduduk Lahendong dengan wajah kecewa.
TEKS & FOTO OLEH: TRI LOKON