TOP

5 Kota Kecil di Eropa yang Belum Diketahui Banyak Orang

Kota-kota besar di Eropa makin sesak dengan turis, membuat langkah terasa berat untuk menikmati suguhan wisata. Menyingkirlah ke kota dan desa yang belum ternama, yang tak kalah cantik dan sarat cerita sejarah menarik. Inilah kota-kota kecil di Eropa yang belum diketahui banyak orang.

Hallstatt, Austria

Desa kecil di Distrik Gmunden, Austria ini begitu artistik sebagai objek fotografi berkat pemandangan Dachstein – pegunungan karst yang ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO. Hallstatt diyakini sebagai salah satu desa tertua di Eropa yang dikenal sebagai penghasil garam sejak 7.000 tahun lalu. Satu keunikan dari Hallstatt adalah desa ini hanya memiliki satu area pemakaman, sehingga jenazah hanya dimakamkan hingga 10 tahun, kemudian tulang-tulangnya akan dipindahkan ke Beinhaus (rumah tulang). Kegiatan menarik yang bisa dilakukan saat berkunjung di Hallstatt adalah menaiki feri dan mengitari area danau untuk menikmati pemandangan. Bagi mereka yang ingin mengenal sejarah Hallstatt bisa mengunjung museum setempat yang menampilkan artefak dan koleksi sejarah berusia lebih dari 7.000 tahun mengenai asal-muasal desa ini, termasuk mengunjungi lokasi Tambang Hallstatt, salah satu lokasi pertambangan garam tertua di dunia.

Valldemossa, Spanyol

Pulau Mallorca di Spanyol memiliki sebuah desa cantik yang ikonik dengan bangunan Royal Charterhouse of Valldemossa, yang dibangun pada abad 14 saat ahli filosofi, Ramon Llull yang menetap sekitar kawasan itu. Sejak abad 19, Valldemossa sudah dikenal dunia akan kecantikan alamnya, hal ini dipengaruhi opini Ludwid Salvator, seorang penulis budaya asal Austria. Suasana Valldemossa yang damai, dengan dukungan pemandangan magis Pegunungan Tramuntana, jajaran rumah-rumah dari batu, kontras dengan area hijau sekitaran desa yang dihuni pohon zaitun, almond, dan jati, menjadikan hari-hari di Valldemossa begitu menyenangkan. Kebanyakan turis melakukan kunjungan singkat ke Valldemossa untuk mengunjungi Real Cartuja, Biara Carthusian yang sempat ditinggali Chopin dan George Sand saat musim dingin.

Gruyeres, Swiss

Kota bernuansa abad pertengahan yang berada di sisi barat Swiss ini merupakan rumah bagi salah satu keju terbaik dunia, gruyere. Pada 2014, Gruyeres dinobatkan sebagai desa tercantik di Swiss yang penduduknya menggunakan bahasa Prancis. Gruyeres dapat dicapai dari Zurich dengan berkendara sekitar dua jam perjalanan atau sekitar tiga jam perjalanan menggunakan kereta. Para turis biasanya akan menjelajah pusat kota yang marak dengan bangunan-bangunan yang artistik, cantik, serasa seperti berada di rumah boneka. Perjalanan akan dilanjutkan dengan menyusuri jalur pedesaan yang akan mengarah ke Kastil Gruyeres yang sudah berdiri sejak abad 13, yang kini diubah menjadi museum dengan sejumlah koleksi yang dipamerkan secara permanen serta pertunjukan multimedia yang menceritakan sejarah kastil.

Trogir, Kroasia

Berada tak jauh dari Bandara Split, Trogir kental dengan suasana a la abad pertengahan melalui bangunan-bangunan, menjadikan area pusat kota sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO. Kota pesisir ini memiliki dua dermaga marina tempat bersandar yacht para turis yang kerap menghabiskan waktu menikmati hiburan malam di sini. Jelajahi Kamerlengo yang dibangun orang Venesia pada 1400-an setelah penaklukan Konstatinopel dan meningkatnya ancaman dari Turki. Karmelengo memberi pemandangan terbaik ke perairan Trogir yang pada masa lalu digunakan untuk mengamati kapal-kapal Ottoman yang datang. Selain sarat dengan sejarah, Trogis memiliki 30 situs penyelaman yang berada sekitar Pulau Solta yang selama beberapa dekade lalu berada di bawah otoritas militer dan dilarang untuk diselami.

Dolceacqua, Italia

Merupakan desa kecil di wilayah Liguria, di Provinsi Imperia, Italia, Dolceacqua berada dekat kota Imperia dan Genoa, juga terletak di perbatasan Prancis. Desa ini dikenal karena Kastil Dolceacqua yang menjadi daya tarik utama Dolceacqua yang selama beberapa abad terakhir mengalami perubahan arsitektur akibat penyerangan beberapa, termasuk sempat hancur pada 1744 selama perang suksesi dengan Austria. Dengan wilayah yang tidak terlalu besar, desa ini nyaman untuk dikitari dengan berjalan kaki sambil menyusuri jalan setapak yang terbuat dari batu.