TOP

Seindah Sumba

1

 

 

 

Carla Petzold-Beck jatuh cinta dengan Sumba pada pandangan pertama. Siapa yang menyangka bila Maret 2015 kemudian takdir membawanya kembali ke pulau tersebut sebagai General Manager Nihiwatu Resort, yang bertepatan dengan kembali dibukanya resor mewah ramah lingkungan tersebut setelah selesai direnovasi. Kepada Editor-in-Chief Panorama, Fransiska Anggraini, wanita penyuka scuba diving yang mahir empat bahasa ini menceritakan kesan-kesannya bekerja di tempat seindah Sumba.

 

 

Mengapa Pulau Sumba istimewa untuk Anda?

Pulau ini masih belum tersentuh, terutama di bagian barat. Ke mana pun kaki melangkah, Sumba menawarkan pengalaman unik dan pemandangan yang masih asli. Anak-anak di sini belum silau uang dan orang tuanya begitu membanggakan adat mereka – hal yang sangat langka di dunia modern ini. Saya tersentuh bagaimana mereka dapat hidup bahagia padahal mereka tak punya materi berlimbpah. Mungkin tinggal di tempat seindah Sumba sudah otomatis membuat orang bahagia, seperti yang dirasakan masyarakat setempat.

Ceritanya bisa bekerja di Sumba?

Saya menginap di Nihiwatu pada September 2014 setelah banyak mendengar tentang resor ini ketika masih bekerja sebagai General Manager di The Legian, Bali. Tamu-tamu menginap di The Legian setelah atau sebelum mereka ke Sumba. Dari merekalah saya banyak mendengar hal menarik tentang Sumba. Karena penasaran, akhirnya saya ke sana. Kunjungan pertama sekitar empat tahun lalu. Walau hanya tiga malam, namun saya telah benar-benar jatuh cinta dengan pulau tersebut. Saya menyukai bentuk atap rumah mereka yang menjulang dan sistem kepercayaan mereka yang unik – pulau ini penuh misteri yang menunggu untuk diungkap.

Posisi Nihiwatu bila dibandingkan resor-resor mewah di tempat terpencil lain?

Saya memulai karir sebagai General Manager 12 tahun lalu di sebuah butik eco-resort di Nikaragua bernama Morgan’s Rock, yang memiliki banyak kesamaan dengan Nihiwatu. Keinginan Nihiwatu untuk menjadi resor yang ramah lingkungan sambil berpartisipasi untuk kesejahteraan masyarakat sekitar banyak mengingatkan saya akan Nikaragua.

Kearifan lokal Sumba yang diterapkan di Nihiwatu?

Banyak sekali! Dekorasi interiornya sejak awal mengadaptasi banyak kultur Sumba, seperti sofa dan serbet yang mengambil motif tenun ikat, selain tiang penuh ukiran yang menghiasi resor. Arsitektur bangunan resor pun meniru desa-desa tradisional di Sumba yang dipenuhi rumah-rumah beratap ilalang dengan bentuk menjulang. Karena staf Nihiwatu 90 persen adalah warga setempat, kami membiarkan mereka melakukan tradisi Sumba dalam kehidupan sehari-hari.

Yang didapat di Nihiwatu dan tidak bisa didapat di resor mewah lain di dunia?

Datang sendiri saja. karena penjelasan yang akan saya berikan tidak dapat menyamai kenyataan yang ada. Belum ada kosakata yang dapat mendeskripsikan keindahan Sumba secara akurat. Banyak hal kecil yang membuat pengalaman menginap di Nihiwatu yang dapat menancapkan kesan mendalam terhadap Sumba. Bila datang bersama anak-anak, misalnya mungkin mereka tak akan bisa melupakan pengalaman melepas tukik ke laut. Sedangkan orang tua mungkin akan menobatkan trekking di sabana yang luas adalah pengalaman terbaik seumur hidup.

Bagaimana Sumba Foundation membantu masyarakat?

Sumba Foundation berkomitmen untuk mengurangi kemiskinan di Sumba dengan melakukan berbagai proyek bantuan kemanusiaan dalam bidang (terutama untuk mengontrol wabah malaria), edukasi, dan akses terhadap air bersih maupun pendapatan. Semua itu dilaksanakan dengan tetap menghormati kultur dan tradisi Sumba yang kini sudah semakin rapuh tergilas modernisasi. Kini telah ada lima klinik kesehatan dan wabah malaria telah turun 85 persen, selain terdapat 16 sekolah, 60 sumur air bersih, dan 240 titik penampungan air.

Dengan pengalaman bekerja di tempat-tempat eksotis di dunia, kearifan lokal yang dipegang teguh hingga hari ini?

Di mana pun saya berada, saya ingin terus belajar. Saya besar di Singapura dan sepuluh tahun terakhir bekerja di Malaysia, Indonesia dan Kamboja dalam lingkup budaya berbeda. Banyak hal yang mungkin tidak sesuai dengan kultur saya , namun sebagaipendatang, maka sayalah yang harus beradaptasi. Sebagai contoh, bila saya melatih staf lokal tentang standar perhotelan ala barat, ternyata bilsa saya memberikan mereka kesempatan untuk memperlakukan tamu seperti cara tradisional mereka, biasanya justru saya yang harus belajar banyak dari mereka.

Rencana membangun pariwisata di Sumba melalui Nihiwatu?

Saya memang menginginkan Sumba berkembang, namun berharap perkembangan itu berlangsung perlahan. Tidak booming dalam waktu singkat dan meninggalkan efek-efek tidak menyenangkan, sehingga akan merugikan sektor pariwisata itu sendiri. Dengan perubahan yang berangsur-angsur, maka Nihiwatu pun masih dapat menjadi tempat yang istimewa untuk tahun-tahun mendatang.